Karya Pertamaku "Cinta Berlabuh Takdir" :)
Cinta Berlabuh Takdir
By: Zet Masyhadi
Banyak yang masih menjadi misteri di
dunia ini. Manusia, ya, sangat banyak misteri yang tersimpan pada mahluk yang
paling sempurna yang di ciptakan tuhan ini. Seperti halnya hujan
yang membasahi bumi, semakin banyak hujan yang jatuh, air yang tergenang akan semakin
banyak. Manusia,
Semakin banyak manusia yang terlahir, maka akan
semakin banyak misteri yang tercipta. Ada satu kata yang menyimpan begitu banyak
teka-teki.
Cinta, hoho.. sangat banyak manusia yang terhipnotis
dengan kata ini, cinta bagaikan labirin yang mempunyai dua ujung, di mana ujung
yang satu terdapat tempat yang di penuhi bunga-bunga yang begitu indah”kebahagiaan”,
dan ujung yang satunya terdapat tempat yang di penuhi dengan
duri-duri”penderitaan”. Itulah sebenarnya cinta, kebahagiaan dan
penderitaan,semua orang tau itu, haha walaupun sudah jelas ada kata
penderitaan, tetapi masih saja manusia bersikeras untuk mencobanya. Apalagi
kalo bukan karena rasa penasaran.
Oh Hay.. It’s
me, Ziad Masyhadi, jangan ketawa mendengar namaku, aku tau namaku aneh (banyak
orang yang mengatakan itu), tapi tenang aja, orangnya gak aneh ko’, J aku
sering di panggil Ziad, aku lahir pada juni tanggal 14, ya.. Gemini, katanya si
yang bintangnya gemini orangnya menarik, periang dan mmmmm Cerewet, dan itu
emang bener. Hehe.. aku mengenal cinta dari umur 14, waktu itu aku masih kelas
3 SMP (kelas IX-B) alias belum akil balig, bulu ketiak aja belum tumbuh, yah
mengertilah, sekarang jamannya berbeda, anak SMP kelas satu saja sudah bisa
pacaran. Tiara, cewek tomboy super pintar (kelas IX-A) yang membuat ku jatuh
cinta tuk pertama kalinya. Sahabatku (Mario yang satu kelas dengan Tiara) si
nggak setuju seandainya aku pacaran dengan Tiara, tapi yah…yang namanya cinta,
sekalipun ia berada di padang yang di penuhi kecoa (perlu di ketahui, aku
paling takut kecoa) aku akan menyeberanginya.
Waktu itu sore hari saat aku melihat
Tiara bermain basket (aku diam-diam selau memerhatikan Tiara bermainnya dari
bawah pohon yang berada agak jauh dari lapangan basket), memandangnya sudah
membuat hatiku bahagia, tetapi..hmmmm aku juga manusia, ada saat dimana aku
inginkan sesuatu yang lebih, perasaan yang menginginkan lebih dari sekedar
memandangnya, tapi yang benar saja, aku masih kelas 3 SMP, bagaikan pohon yang
menginginkan sinar sang surya terhalang oleh mendung yang menutupi langit.
Hatiku yang menginginkan ia terhalang oleh perasaan malu yang menyelimuti
hatiku, selama aku sekolah jangankan bicara denganya, berdekatan saja tidak
pernah. Aku terus dan terus menunggu setiap waktu, berharap bisa mendapatkan Tiara,
aku berfikir jika aku malu terus aku tidak akan mendapatkan jawaban, ahirnya
aku memberanikan diri mendekati Tiara.
Rabu, 7 Februari 2007, pagi itu aku
berangkat sekolah lebih awal, sekolah masih sepi, aku duduk di bawah pohon
tempat aku sering melihat ia bermain basket, terlihat seseorang duduk di tepi
kolam sekolah, aku penasaran lalu mendekatinya, setelah cukup dekat dan
ternyata dia adalah Tiara sedang merenungkan sesuatu, aku tarik nafas
dalam-dalam dan tetap saja aku malu mendekatinya, aku memutuskan untuk kembali
ke pohon, dan tiba-tiba saat ku membalikkan badan “Tumben datang lebih awal???”
terucap sapaan pertama darinya untuk ku sambil memberi senyuman terindah yang
pernah aku lihat(efek jatuh cinta), kakiku gemetar memberanikan diri tuk duduk
di sampingnya, “aku hanya ingin datang pagi(sambil tersenyum)” hanya itu kata
yang mampu aku ucapkan untuk menjawab pertanyaan darinya. Hampir 15 menit
berlalu tanpa ada satu katapun terucap dari kita berdua. Aku hanya bisa diam
terpaku melihat kolam, ikan berenang dengan semangatnya dan bunga teratai mekar
begitu indah seakan menggambarkan hatiku yang begitu bahagia bisa sedekat itu
dengannya. Di tengah keheningan terlontar kalimat dari bibirnya “Mengapa teratai
memilih hidup sendiri di tengah genangan air?? Bukankah di darat ia mempunyai
banyak teman-teman yang sama indahnya dengannya, ia berbunga seakan-akan
bahagia hidup di tengah2 kesendirian, apakah iya seseorang bisa bahagia jika
keadaannya seperti teratai itu??” Aku tersenyum, “kenapa tersenyum” tanyanya bingung
sambil melihatku, “Terlihat sendiri, padahal tidak, ikan-ikan terlihat sangat
bahagia bermain di dekatnya, memberi makan ikan dengan lumut-lumut yang menempel
di batangnya, ia merasa berguna bagi ikan-ikan di dekatnya, tentunya ia tidak
mengharapkan ikan-ikan membalas jasanya, tapi cukup dengan melihat ikan bahagia,
ia akan bahagia dan berusaha untuk tetap hidup, begitu pula dengan manusia, tidak
ada yang bisa mengetahui apa yang
membuat seseorang bahagia, terkadang
manusia bahagia dengan melihat seseorang senang atau berguna karena
keberadaannya, walapun ia terlihat sendiri, pasti ada hal yang membuat ia
bahagia dan tetap hidup. Di saat kamu kehilangan semangat untuk hidup,
bayangkan orang yang kamu sayangi dan berusalah tetap hidup untuk membahagiakan
dia J” ia
terdiam sejenak dan tersenyum, entah mengapa tiba-tiba aku lancar berbicara di
depannya. “Tiara” sambil mengulurkan tanganya dengan tetap tersenyum mengajakku
kenalan, “Ziad” sambil tersenyum bahagia dengan sedikit gugup berjabat tangan
dengannya. Ia terlihat sedikit menahan tawanya setelah mendengar namaku,
Aku:
ya..aku tau namaku aneh (sambil malu-malu melepas tangan yang sebenarnya masih ingin ku rasakan
kehalusan tangannya)
Tiara: J besok
bisa bangun pagi kan?? sampai bertemu besok pagi, (sambil pergi tersenyum melambaikan
tangannya).
Aku:
eee.ee yaaa pasti (gugup)
Hari itu aku sangat senang, bagaikan
menemukan danau yang di penuhi buah-buahan yang tumbuh di tepinya di tengah-tengah
padang pasir yang luas. Aku menjalankan aktifitas sekolah dengan penuh
senyuman. Aku kira Tiara cewek super tomboy yang cuek, dan ternyata aku salah
besar, dia jauh lebih anggun di banding cewek yang lain. Malam pun tiba, aku
sangat-sangat tidak sabar menunggu esok pagi, seakan-akan ingin menendang bulan
dan menarik matahari tuk terbit. Keesokan paginya, tepat pukul 06.30 aku
berangkat ke sekolah, dan seperti yang aku harapkan, ia sedang duduk di pinggir
kolam. Pagi itu aku sedikit PD duduk di dekatnya karena aku sudah bertemu ia
sebelumnya, “sudah lama di sini??” tanyaku, dia terdiam, memandangku kemudian
tersenyum dengan senyuman yang tetap semanis madu, tak bisa mengelak, bibirku
pun ikut tersenyum karena bahagia melihat ia tersenyum untukku, pagi itupun
berlalu dengan kebahagiaan. Dari saat itu aku dan dia mulai berteman, di saat
ia punya masalah, aku selalu ada di sampingnya, setiap hari minggu kami selalu
pergi ke tempat paforite kami, yaitu pantai Kute (pantai berpasir putih) yang kebetulan
tidak terlalu jauh dari SMP, bisa di tempuh dengan berjalan kaki, kami selalu
duduk ngobrol sambil menikmati sunset di batu besar yang terdapat di pantai
tersebut, saat itu aku merasa tujuan hidupku hanya untuk dia.
Waktu terasa berjalan begitu cepat,
Ujian Nasional pun berlalu dengan hasil SMP ku lulus 100%, sebelum Ujian
Nasional, aku dan dia berjanji akan masuk ke SMA yang sama, saat itu aku
berharap bisa pacaran setelah masuk SMA. Aku berencana menyatakan cinta saat
perpisahan kita yang rencananya akan di lakukan di pantai Kute, aku tak sabar
menunggu momen itu, aku mempersiapkan semuanya sesempurna mungkin dengan di
bantu teman-teman kecuali Mario sahabatku yang memang dari awal tidak setuju
melihat aku dengannya, hari perpisahanpun datang, kami berkumupul di pantai, entah
mengapa hatiku tidak tenang hari itu, tetapi aku berusaha membuang perasaan
itu, teman-teman pun sudah berkumpul, mentalku sudah siap, beberapa saat aku
mencari-cari dia, hatiku semakin tidak tenang karena sosok itu belum terlihat
juga, aku terus berharap dan berharap ia akan datang, dan ternyata firasatku
benar, harapanku semuanya musnah setelah medengar kabar dari kepala sekolah
beberapa siswa pergi ke luar negeri, dan salah satunya adalah Tiara, ia
melanjutkan study ke Singapore. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku tak bisa
menahan air mata, seakan hidupku tak punya tujuan lagi, teman-temanku hanya
bisa terdiam melihatku begitu sedih, aku berjalan sendiri meninggalakan acara
perpisahan itu, aku berjalan ke kolam di SMP tempat pertama kali aku bertemu
dia. Menangis sambil melihat teratai yang tersisa tinggal batangnya, layu
kehilangan mahkotanya, seakan-akan ikut merasakan kehilangan orang yang sangat
berarti. Air mataku tak henti mengalir, tiba-tiba terdengar suara kaki berjalan
menuju ke arahku, dan ternyata itu Mario, kemudian duduk di sampingku.
Mario:
apa kamu merindukan dia??
Ziad:
(terdiam)
Mario:
hmmmmmm ini sebabnya aku gak setuju melihat kamu sama dia. Ini bukan ahir dari hidupmu, aku
percaya pasti kalian akan bertemu
lagi suatu saat nanti. Berjuanglah dulu
demi kehidupanmu kelak…
Aku:
(tetap terdiam)
Mario:
Ziad… dia juga merindukan kamu (sambil memberiku selembar surat).
Aku terdiam, berlahan menghafus air
mataku dan mengambil surat itu.
”Ziad.. sebelumnya aku minta maaf
jika pergi tanpa memberitahumu, aku cuman tidak mau melihatmu bersedih di
depanku, karena aku akan semakin terpukul jika melihat keadaan itu. Aku minta
kamu jangan bersedih setelah mengetahui aku pergi, aku pergi tidak selamanya
Ziad, suatu saat aku akan kembali, aku akan kembali mengisi hari-harimu. J kamu
masih ingat kalimat yang pertama kamu ucapkan untukku?? “manusia bahagia dengan
melihat seseorang senang atau berguna karena keberadaannya, walapun ia terlihat
sendiri, pasti ada hal yang membuat ia bahagia dan tetap hidup. Di saat kamu
kehilangan semangat untuk hidup, bayangkan orang yang kamu sayangi dan
berusalah tetap hidup untuk membahagiakan dia” aku merasa bahagia karena bisa
mengisi hari-harimu dan malihat senyum yang terpancar dari bibirmu, kamu harus
tau, aku sekarang hidup karena kamu.
Percayalah Ziad, waktu pasti akan
menjawab hati kita berdua, aku percaya itu dan kamu juga harus percaya juga.
Sekarang berjuanglah untuk masa depan kita, berhentilah bersedih. Karena aku
sayang kamu. Oya, aku tau kamu sering memerhatikan aku dari pohon di dekat
lapangan basket , di dekat pohon itu aku menaruh boneka kaca, aku ingin kamu menjaga
dan mengembalikan barang itu ke aku kelak. Simpan baik-baik ya.. J”
Setelah membaca isi surat itu, aku
langsung berlari mencari boneka kaca yang ia taruh di dekat pohon, dan ternyata
aku telat, boneka itu sudah tidak ada di tempatnya, aku bingung harus melakukan
apa, aku terus dan terus mencari boneka itu sampai fajar tiba. Dan ahirnya aku
putus asa, aku pulang dengan hati yang sedih karena tidak bisa memenuhi permintaannya
untuk menjaga boneka itu. Di tengah perjalanan aku baru sadar, aku sangat lapar
karena aku belum makan dari kemarin malam karena sibuk mempersiapkan semua
keperluan untuk mnembak Tiara, badanku lemas, kaki dan tanganku gemetar, ketika
aku sampai di rumah, ibu membukakanku pintu, aku langsung terjatuh tak sadarkan
diri di pelukan ibu, tentu saja ibu dan ayahku cemas, 1 hari aku tak sadarkan
diri, aku benar-benar down.
Keesokan harinya ahirnya aku
terbangun dengan masih mengingat hal yang kemarin aku alami. Aku berusaha
berdiri tapi tak lama ibu langsung datang dan menyuruhku tidur lagi, lalu ia
mengambilkanku segelas teh dan sepiring nasi. Sudah jelas nafsu makanku
berkurang, aku masih tidak menerima kenyataan yang terjadi, tiba-tiba terlintas
di fikiranku orang yang sering membersihkan sekolah “petugas kebersihan”, pak Rizal
panggilannya, dia sudah tua, umurnya hampir 50 thn, untungnya dia bapak yang
baik hati, aku sering memanggilnya kakek(karena kakekku sudah meninggal), tanpa
berfikir panjang aku langsung mencari pak Rizal ke rumah sekolah tempat ia
tinggal, ternyata pak Rizal tidak ada di
rumah itu, aku bertanya pada warga di sekitar sekolah, ternyata pak Rizal
pensiun bekerja di sekolah itu dan pindah tempat tinggal ke kelurahan sebelah.
Aku langsung berlari mencari tempat tinggal pak Rizal yang baru, ahirnya aku
menemukan pak Rizal yang berdiri di depan rumah yang keliahatan tak terurus,
aku berjalan mendekatinya, “permisi kek, apa kakek pernah melihat benda yang
terbuat dari kaca??” tanyaku kepadanya, “oh.. apakah benda yang ini yang kamu
maksud?” (sambil memeriksa salah satu kardus yang berisi barang pindahan yang
belum di rapikan di rumah barunya itu), dan tenyata benar dugaanku, perasaanku
sangat lega ketika melihat benda itu berada di tangan pak Rizal, “terima kasih
kek, terima kasih banyak” (sambil ingin mengambil benda tersebut), tiba-tiba
pak Rizal berkata “sebentar dulu, sebelum kamu mengambil benda ini, apakah kamu
mau menolong kakek merapikan barang-barang bawaan kakek, membersihkan rumah
kakek beserta halamannya?” dari awal aku melihat, memang berniat menolong pak
Rizal merapikan barang-barang bawaannya, tapi gak sampai mambersihan halaman,
yah,.. kasihan juga karena dia sudah tua, “J baik kek, sy pasti bantu”
jawabku sambil langsung mengambil barang-barang pak Rizal. Hari terasa sangat
cepat berlalu, aku shalat di mushalla dan makan bersama pak Rizal di warung
dekat rumah pak Rizal, karena hari sudah hampir malam, aku memutuskan untuk
pulang dan melanjutkannya esok hari, setelah aku permisi aku langsung bergegas
pulang karena dari pagi aku tidak sempat memberi kabar ke ibu. Malamnya aku
tertidur pulas karena sudah bekerja seharian penuh.
Waktu shubuh pun datang, aku
membangunkan ibu dan ayah, setelah itu mengambil air wudhu dan shalat subuh, di
keheningan aku berfikir “apakah semua yang aku lakukan ini benar? Apakah semua
ini tidak akan sia-sia?” hmmmm entahlah, selama aku masih mampu melakukannya,
mengapa tidak? Kelak semuanya pasti kan terjawab, aku yakin allah pasti
memberikan yang terbaik untukku, tak lama waktu sudah menunjukkan pukul 07.30,
aku sarapan dan langsung izin kepada ibu dan ayah untuk ke rumah pak Rizal, di
perjalan aku melihat pengemis yang kelaparan, sayangnya aku gak membawa
apa-apa, saat itu terlintas di fikiranku “seandainya aku terlahir pada kondisi
yang seperti itu(sambil memngingat saat aku tidak ingin makan)”seharusnya aku
mensyukuri apa yang sudah di berikan allah kepadaku. Ahirnya aku sampai di
kediaman pak Rizal, anehnya pagi itu aku tidak menemukan pak Rizal di rumahnya,
aku berfikir sejenak dan memutuskan untuk membersihkan halaman rumah pak Rizal
yang tak pernah terurus sekian lama, tak lama kemudian aku melihat pak Rizal
datang membawakanku nasi bungkus dan segelas teh dari warung sebelah, “mari
nak, kita sarapan dulu” berkata pak Rizal kepadaku sambil tersenyum. “saya
sudah sarapan kek, bagaimana kalo nasi itu untuk makan siang nanti?” jawabku
sambil mengambil teh dan duduk menemaninya sarapan, pak Rizal tersenyum dan
melanjutkan sarapannya, setelah pak Rizal selesai aku melanjutkan membersihkan
halaman rumahnya. Ahirnya selesai juga membantu pak Rizal, prasaan bahagia
karena telah menemukan boneka kaca dan telah membantu pak Rizal melakukan
pekerjaannya membuat hatiku puas pada hari ini. Karena hari sudah senja, akupun
memutuskan untuk meminta izin pulang kepada pak Rizal, waktuku beranjak pergi,
terlontar kalimat dari pak Rizal “sepertinya benda itu pemberian seseorang, apa
seseorang itu sangat berarti untukmu?” kakiku berhenti melangkah dan terdiam sejenak,
aku berbalik dan tersenyum kepada pak Rizal “sampai jumpa lagi kek” sambil
melambaikan tangan.
Waktu terus berjalan, detik-detik
kehidupan terus berdetak, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu,
minggu berganti bulan, tak terasa aku sudah memasuki masa SMA, teman-teman baru
mengisi hari-hari baruku, sahabatku Mario menempuh SMA di sekolah lain, suasana
yang sangat berbeda dari suasana SMP dulu, 2 tahun berlalu, aku memasuki kelas
tiga SMA, aku mengambil jurusan IPS, boneka gelas masih melekat di tas sekolah
ku, kita semua tahu, wanita di dunia ini tidak satu, perasaan ingin memiliki
pacar dan perasaan tidak percaya kepada Tiara pasti ada, walaupun cuman
sedikit, sering terlintas dalam fikiranku “apakah iya, Tiara tidak mencari
pacar disana?”, semenjak aku masuk SMA sampai sekarang banyak wanita yang ingin
dekat denganku, tetapi semua aku anggap biasa, sampai suatu hari aku nememukan
seorang wanita, Sahila namanya, ia anak kelas 3-IPA 2, ia sangat mirip dengan
Tiara, cuman dia tidak senang bermain Basket, dia sangat perhatian sama aku, di
saat aku susah dan membutuhkan seseorang, dia selalu ada di dekatku, aku
sebagai cowok pasti membalas kebaikan dia, mmmmm sebenarnya aku juga punya
perasaan sama Sahila, tapi….entahlah, aku menghiraukan itu, mungkin saja itu
hanya perasaan sesaat, sampai di suatu sore, hal yang tidak terduga terjadi, di
pantai tempat ku sering duduk berdua menikmati sunset bersama Tiara, Sahila mengajakku
pacaran, tuk pertama kalinya cewek ngajak aku pacaran, hatiku dagdigdug!,
badanku gemetar, aku tak tahu harus melakukan apa, aku hanya bisa terdiam
melihat matahari, di saat Sahila terus memandangku dengan penuh harapan, aku
sangat-sangat bingung, antara menjalin hubungan dengannya, atau menunggu waktu
tuk bertemu Tiara, yang aku sendiri tidak tahu apakah aku akan benar-benar
bertemu Tiara yang seutuhnya seperti Tiara yang dulu. Di saat itu terlintas
fikiran yang menurut aku itu hal yang sedikit egois, aku ingin menjalin
hubungan dengan Sahila sementara aku menunggu Tiara, tapi jika sudah bertemu
Tiara, aku harus bagaiman lagi? Banyak tanda tanya di otakku, sku terus
berfikir, otakku sudah hampir mencapai klimax, dan ahirnya aku memutuskan untuk
menjalin hubungan dengan Sahila, aku juga berfikir akan mengecewakan Sahila
jika aku menolak permintaan dia, terlihat senyuman kebahagiaan dari bibirnya
ketika aku menerima permintaannya, senyum yang selalu mengingatkan aku dengan
Tiara. J Bahagia
bisa melihat dia tersenyum untukku, hari berganti hari, kami sering menikmati
Sunset berdua dengannya seperti yang sering aku lalui bersama Tiara, cinta
mulai tumbuh di hatiku karena perhatian dan kasih sayang yang ia berikan
kepadaku,1 tahun terlewatkan, tiba kabar dari seorang teman bahwa sekitar satu
minggu lagi ia akan pulang ,Tiara akan melanjutkan study di sini, aku senang
mendengarnya,sekaligus merasa bersalah kepadanya dan Sahila. Aku mulai bingung harus berbuat apa,hari
kedatangan Tiara semakin dekat, dan aku belum memutuskan untuk berbuat apa.
Enam hari berlalu setelah kedatangan
kabar itu, aku ahirnya aku memutuskan untuk mengahiri hubunganku dengan Sahila.
keesokan harinya aku mengajak Sahila pergi melihat sunset, kitapun bertemu di
tempat biasa, setelah duduk berdua, Sari menikmati suasana dengan penuh
senyuman, terpancar jelas dari wajahnya kebahagiaan yang seakan tiada habis
dari semenjak kita pacaran. Aku semakin tidak tega untuk melakukan hal yang
sebelumnya sudah ku rencanakan, “kenapa kamu kelihatan bingung sayang?”
terdengar merdu keluar dari bibirnya, “mmmmmm, aku hanya sedang memikirkan
sesuatu” jawabku dengan agak putus-putus, “apa itu? Bisakah kamu
menceritakannya? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan
sesuatu” ia berkata sambil tersenyum manis,
Aku:
“hmmmmmm Sahila… maaf aku telah menyembunyikan ini darimu sejak awal kita pacaran” (raut
wajahnya sedikit berubah, senyumannya
yang manis sudah tak tersisa lagi) tapi aku tetap melanjutkan pembicaraanku “aku sayang kamu, tapi aku punya wanita yang aku tunggu jauh dari sebelum
kita pacaran, sebenarnya aku
ingin tetap bersamamu, tetapi aku sadar cinta pertama
dan terahirku adalah dia, sekarang ia akan segera datang, dan aku harus menyambut dia dengan
kasih sayang, maaf…”
Sahila:
(diam membisu, air matanya tak henti mengalir, raut wajah yang tidak menerima keadaan tergambar
jelas) jadi kamu hanya ngebuat
aku jadi pelampiasan? Kamu sengaja dari awal manjadikanku
pacar sementaramu? Kamu telah menanamkan cinta dan
kasih sayang yang teramat dalam di hatiku, dan sekarang kamu
ingin ini semua lenyap begitu saja?? (berbicara sambil menangis).
Aku:
bukan begi..
Sahila:
sudah cukup Ziad (langsung memotong) sudah cukup aku mengetahui semua kepalsuan yang kamu berikan ini, hmmmmm(mengusap air matanya dan
berusaha tersenyum) aku akan
berusaha ngertiin kamu, terima kasih atas semuanya, senang aku merasakan kebahagiaan yang kamu berikan di sisa-sisa hidupku ini, aku selalu berdo’a yang tebaik untukmu,
semoga kamu bahagia bersamanya J
(terlihat senyum kekecewaan dari wajahnya)
tidak lama setelah itu dia pergi.
Aku:
Sahila.. maafkan aku..(sambil memegang tangannya)
Sahila:
(tersenyum) J lakukan
jika itu yang yang membuatmu bahagia(sambil
berlahan melepas genggaman tangannku), aku akan bahagia jika kamu bahagia,
Ia pun pergi, rasa sangat bersalah
menyelimuti hatiku, aku hanya bisa diam membisu melihat sang sursa semakin
menjauh, seperti sari yang semakin menjauh dari kehidupanku. Aku memutuskan
untuk pulang, sesampaiku di rumah, aku langsung tertidur di kamar.
Keesokan harinya, matahari berlahan
muncul dari sebelah timur, aku berusaha melupakan kejadian kemarin dan berusaha
menimbunnya dengan perasaan bahagia yang terbayang yang akan ku jalani hari
ini, 3 tahun sudah semenjak Tiara pergi, dan hari ini, pukul 07.30 aku akan
bertemu dengannya, sekarang sudah pukul 07.25, tak sabar hatiku ingin bertemu
dengannya, syiuuuuttttt terdengar suara pesawat mendarat, aku berada di deretan
terdepan bersama teman-teman yang ingin bertemu juga dengannya, sesuatu yang
aneh terjadi pada pagi itu, mengapa seorang Mario, orang yang cuek dengan Tiara
ikut berada di sana menunggu Tiara, dan lebih anehnya lagi, dia gak negur aku
di pagi itu, tapi aku menghiraukan hal itu dan kembali mengalihkan pandanganku
ke Tiara yang terlihat sedang menuruni tangga pesawat, ia melihatku, tetapi
mengapa pandangannya terhadapku lain, itu bukan seperti pandangan yang dulu
lagi, itu adalah pandangan yang membawa beban, hatiku mulai tak tenang, apkah
ada sesuatu yang akan terjadi kepadaku. Tak lama Tiara mendatangi kami,
sambutan hangat di berikan teman-teman kepanya, tak lama ia melihatku, ia
tersenyum, tapi yang ku lihat hanyalah senyuman palsu, 1000 tandanya ada dalam
fikiranku, ada apa? Apa yang terjadi? Apakah semuanya akan baik-baik saja? Aku
memutuskan untuk pulang tanpa menegur dia dulu.
Aku duduk sendiri di pantai sambil
menggemgam boneka kaca pemberian dia, hatiku bingung, sangat kebingungan,
fikiranku terperangkap di labirin yang berdinding tanda tanya, aku tertidur di
tempat itu, aku tertidur sampai sore hari, perutku bergemuruh ingin makan,
tetapi rasa laparku di tepis oleh prisai kepiluan hatiku, aku melihat sang
surya sudah tenggelam setengahnya, tiba-tiba Tiara datang, “aku sudah duga kamu
di sini” terucap dari bibirnya, aku diam tetapia berusaha untuk tersenyum,
Tiara:
Ziad.. aku ing..
Aku: aku
memotong pembicaraannya dengan menyodorkan boneka kaca yang pernah ia kasi “J aku memenuhi permintaanmu”
Tiara:
(terlihat terharu) ziad.. aku gak bisa..
Aku:
mengapa?
Tiara:
hmmmmmm aku di jodohi dengan seseorang oleh ayahku..
Aku:
sapa itu?
“Aku”, (tiba-tiba muncul di belakang
kami), aku benar-benar terkejut melihat ternyata orang yang di jodohin dengan
Tiara adalah MARIO “SAHABATKU SENDIRI!!!”, perasaan tidak percaya, kekecewaan,
kesedihan, dan semua hal yang negatif bercampur di hati dan fikiranku, air
mataku tak sanggup ku bendung lagi “MENGAPA!!?” (sambil melihat keduanya),
mereka hanya bisa terdiam, “MARIO!!?”
sambil melihat dia dengan tatapan kekecewaan, “aku sudah bilang dari
awal, aku gak setuju melihat kamu dengan Tiara” jawabnya. Aku langsung berlari
meninggalkan mereka berdua, aku tidak berani pulang karena mataku yang sembab.
Aku berlari ke rumah kakek (pak Rizal), “kamu kenapa?” tanya kakek dengan
tampang kebingungan, aku hanya terdiam mendengar pertanyaan kakek, karena aku
tidak mau berbicara apa-apa, kakek menyuruhku untuk istirahat di dalam.
Hari berikutnya terlahir, pagi-pagi
aku duduk di halaman rumah kakek, tak lama kakek membawakan aku secangkir teh
dan duduk di sampingku,
Pak
Rizal: apa kamu sangat merindukan dia? Apa kamu sangat menyayangi dia? Apa dia sangat berarti untukmu? J (tanya kekek kepadaku sambil tersenyum) aku memandang
kakek dengan wajah heran
Aku:
maksud kakek?
Pak
Rizal: ya Tiara, apaka benar apa yang kakek tanyakan?
Aku: (makin
terheran) mengapa kakek...???
Pak
Rizal: kakek tau semuanya.. J , kakek sengaja tidak membahasnya dari dulu, Tiara itu cucunya kakek, ayahnya
adalah anaknya kakek, dia tidak
menaruh boneka kaca itu di pohon, melainkan langsung memberikannya kepada kakek, dia juga sangat menyayangimu, kakek melihat kamu anak yang baik, rajin dan
tekun, kakek tahu dia di jodohkan
dari sejak kecil dengan Mario, anaknya teman dari ayahnya Tiara, kakek sebenarnya kurang setuju dengan Mario, dy anaknya manja, Tiara juga tidak suka
dengan Mario, sekarang kakek tanya,
apa kamu masih ingin bersamanya? J
Aku:
(terlahir sebuah harapan dari hatiku) tentu aku mau kek, aku sangat menginginkan ia..
Kakek: J
baiklah, serahkan semuanya kepada kakek, beri kakek waktu 3 hari (sambil bergaya seperti joker
untuk menghibur hatiku yang lagi
pilu). Mudah-mudahan kali ini berhasil, aku menaruh harapan penuh kepada pak Rizal, aku bergegas pulang ke
rumah karena takut di marahin ibu
karena tidak memberikan kabar dari kemarin.
Satu hari berlalu, hari kedua di
pagi hari tiba-tiba datang sesosok sahabat, dia langsung ke kamarku dan duduk
di sebelahku tidur,
Mario:
kamu gak usah marah Ziad, bukan aku yang menginginkan ini semua, mana mungkn aku tega ngelakuin ini sama
sahabatku, aku minta maaf,
benar-benar minta maaf, apa persahabatan kita putus
gara-gara ini? Tentu aku tidak mau itu, sulit mendapatkan sahabat sepertimu.
Aku:
hmmmmm yaaa nggak apa-apa ko’, aku juga ngerti, cuman yang kemarin aku sedikit syok, tapi aku sudah
bisa mengtrolnya ko’ J
Mario:
Ziad, seandainya perjodohan ini di batalkan, aku akan langsung bilang ya, karena aku sudah mempunyai pujaan
hati yang lain, aku jatuh cinta sama
wanita lain. Aku terus berdoa supaya perjodohan ini di batalkan (sambil melihat ke luar jendela)
Aku: apa
kamu mau merelakan Tiara untukku?
Mario:
tidak ada yang lebih berarti dari persahabatan. J
Aku lega mendengarnya, memang,
sahabat sejati pasti akan mengerti semuanya, sekarang fikiranku tertuju ke pak
Rizal, apakah semuanya akan berjalan seperti yang aku inginkan? Hari itu Mario
memutuskan untuk menginap di rumahku, malampun berlalu, sang surya terbit dari sebelah
timur dengan senang hati setia memancarkan sinar kehidupannya. Paginya setelah
kami sarapan, Mariopun permisi pulang, sedangkan aku memutuskan untuk ke rumah
pak Rizal, sesampaiku di rumahnya, terlihat sosok pujaan hatiku yang sedang
menyiram tanaman di rumahnya pak Rizal, “oh…kakek, ada Ziad datang..” Tiara
teriak memanggil kakeknya dengan wajah yang gemulai, wajah yang ingin
mengabarkan berita gembira kepadaku, raut wajahnya tak seperti waktu di bandara
lagi, walaupun aku belum mendengar hasilnya dari kakek, tetapi hatiku sedikit
tenang karena melihat Tiara begitu. Tak lama pak Rizal pun keluar, ia tersenyum
melihatku “apa kalian tak ingin menghabiskan waktu berdua? Kakek tak ingin
mengganggu kebahagiaan kalian” berkata pak Rizal sambil tersenyum, aku terdiam
sejenak “kakek..?” sambilku melihat pak Rizal, “yaaa, Tiara juga tahu, dia akan
menceritakannya semuanya, selamat ya! J” jawabnya. Hatiku yang begitu
pilu sekarang terbalik 180o terbang melayang menggapai bintang
bersama Tiara bersayap (lebuy), aku dan tiara memutuskan untuk pergi ke tempat
biasa untuk mengobrol. karena lama tak bertemu, kami sekalian membawa bekal
makan siang ke tempat itu, haripun terasa cepat berlalu, obrolan hangat terus
berjalan sampai sang surya berdiri menampakkan keindahannya di sebelah barat, “Tiara..
bagaimana dengan Mario?” tanyaku dengan nada halus, “J kami
hanya berteman, tak ada perasaan lebih di antara kita, lagian hatiku sudah
berlabuh di dermaga yang di penuhi bunga J” (sambil memegang dadaku),
hatiku tak tahu lagi cara mengekspresikan kebahagiaan yang begitu besar, ku
ingin hentikan waktu dan terus bersamanya. Matahari sudah hampir tenggelam
seutuhnya, aku memutuskan untuk mengantar Tiara pulang, aku berdiri lebih dulu dan berlari sampai ke
seberang jalan raya yang ada di dekat pantai “Tiara! Coba ambil ini! (boneka
kaca yang aku bawa)”, “oh.. ya itu milikku, cepat kembalikan! J”
(sambil mengejarku), tittt…. Duar!!! Suara mobil menabrak Tiara!, aku terdiam
mebisu, tubuhku tak bisa bergerak, aliran darah di kepala dan sekujur tubuhnya
tak henti-henti keluar, Tiara!!!!! Dalam sekejap orang langsung berkumpul di
tempat kejadian……………………………… (aku duduk di bangku rumah sakit bersama Mario,
kakek, ayah dan ibu Tiara), satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam, lima jam,
enam jam berlalu, dokter keluar menunjukkan raut muka pembawa berita buruk,
hatiku semakin tertampar ketika mendengar Tiara meninggal karena pendarahan,
kebahagiaan seketika berubah menjadi kesedihan yang begitu mendalam, air mataku
tuk kesekian kalinya mengalir tak terbendung, jantungku seperti tersambar
seratus petir, aku tak sanggup melihat mayat Tiara yang terbujur di sana.
Mengapa semua ini terjadi di kehidupanku? MENGAPA????? Ini semua adalah salahku!! Hujan..seakan
langit ikut bersedih atas kejadian ini, aku berjalan pulang, tak perduli dengan
apapun, sesampaiku di rumah aku langsung memeluk ibu sambil menangis “ada apa
Ziad” tanya ibuku heran, “Tiara bu…Tiara meninggal, dan itu semua
kesalahanku..” air mataku tak henti mengalir “innalillahiwainnailaihirojiun..
sudah Ziad…ini bukan salahmu” sambil menggiring ku ke kamar, sesampaiku di tempat
tidur, aku langsung tertidur, mungkin tak sadarkan diri, entahlah, aku sudah
tak bisa merasakan apa-apa lagi. Esok harinya aku pergi ke pemakaman Tiara,
suasana haru tak terbendung, langit tak henti-henti menangis, tak lama semuanya
meninggalkan pemakaman terkecuali aku, aku terus duduk terdiam menatap nisan,
“sudah…ini bukan salahmu…” tiba-tiba pak Rizal di belakangku, aku tetap
membisu, aku tak sanggup berkata apa-apa lagi, “cinta memang indah, tetapi
takdirlah yang menentukan semuanya, sekarang mari mampir ke rumah kakek J” sambil
memegang pundakku, sesampaiku di rumah pak Rizal, ia memberiku handuk dan
segelas teh hangat lalu duduk di sampingku “Perjalana hidupmu masih panjang,
hidup adalah sebuah taruhan, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah mimpi
yang akan menjadi kenyataan juga, kamu harus bangkit, jangan menyesal, semua
yang terjadi adalah pelajaran, masih banyak hal indah yang akan kau lalui J”
berkata kakek dengan nada lembut, “terima kasih kek” aku sedikit tersenyum,
malam itu aku tidur di rumah pak Rizal.
Malam berganti pagi, aku permisi
untuk pulang kepada kakek, “mampirlah lagi jika kamu ingin” berkata kakek
sambil melambaikan tangan. Hari itu aku kuliah dengan masih terbayang wajah
Tiara, masih merindukan sosok yang sangat ku cintai, sosok yang selalu
membuatku tersenyum, tapi sapa yang bisa melawan takdir? Inilah kehidupan, aku
harus bangkit dari keterpurukan dan kembali mengayuh samudra kehidupanku.
Empat tahun barlalu tanpa ada wanita
di sampingku, tiga setengah tahun aku kuliah dan kini aku menjadi pengusaha
Mutiara, aku punya perusahaan yang aku manage sendiri, tetapi itu semua tak
terlalu berarti tanpa adanya wanita pendamping di kehidupanku, sekarang aku
ingin mencari sosok wanita itu, fikiranku tertuju pada wanita yang pernah
menjadi bagianku dulu, Sahila, ya, sosok wanita yang selalu mengingatkan pada
Tiara ketika aku bersamanya, sekarang ia menjadi akuntan di sebuah perusahaan,
aku ingin menemuinya, satu minggu aku mencarinya, tapi hasilnya nihil, ternyata
ia di kirim ke luar daerah untuk penukaran sementara pekerja, baiklah, aku
memutuskan untuk menuggu dia.
Satu bulan berlalu dan ahirnya ia
kembali, aku menemuinya saat ia makan siang di sebuah rumah makan, kebetulan ia
sendiri hari itu,
Aku: “boleh
aku duduk di sini? J”
Sahila:
(Sedikit terkejut melihatku muncul lagi), boleh, silahkan J.
Aku:
bagaimana kehidupanmu sekarang?
Sahila:
seperti yang kamu lihat, tidak terlalu buruk kan?
Aku: J sangat
indah.
Sahila: J apa
yang kamu ingin bicarakan?
Aku:
tidakkah kamu melihat pandanganku? Aku rindu akan sosok dirimu, aku rindu akan perhatianmu yang dulu
pernah kamu berikan.
Sahila: J Ziad…
aku bukan wanita yang cocok untukmu, aku hanya seorang
akuntan, tidak lebih.
Aku:
tidak ada yang bisa mengetahui apa yang
membuat seseorang bahagia, terkadang manusia bahagia dengan
melihat seseorang senang atau
berguna karena keberadaannya, aku akan sangat bahagia
berada di sampingmu lagi.
Sahila: J maaf
Ziad.. aku sudah punya pendamping hidup, ia tidak sempurna, tetapi ia bisa menghargai apa yang aku berikan kepadanya.
Tak lama kemudian seorang pria
datang, “sayang, siapa ini?” menanyakanku kepada sari, ternyata pria itu adalah
suaminya, “oh ini, kenalin sayang, dia teman lamaku, kita sudah lama tidak berjumpa”
dengan sedikit kecewa dan kebingungan aku berjabat tangan dengan pria itu,
seperti seekor semut yang tersambar petir setelah ku mengetahui ternyata Sari
telah memutuskan untuk melanjutkan hidupnya dengan pria lain. Tak lama kemudian
aku langsung bergegas permisi untuk meninggalkan mereka, aku pulang dengan
perasaan pilu, tak henti-hentinya kesedihan mendatangiku, kapan semua ini akan
berahir? aku tak tahu lagi ingin berbuat apa, hmmm yahh inilah kehidupan, benar
kata kakek “cinta boleh bersemi, tetapi takdir yang memutuskan semuanya” aku
tak ingin jatuh lagi dalam jurang kegelapan, aku seketika bangkit dan
melanjutkan kisah hidupku.
Sapa yang mengetahui rahasia
kehidupan, Viona, ya.. seorang pegawai bank nan cantik dan perhatian, wanita
yang penyayang, mungkinkah dia? Entah lah, sapa yang tahu tentang takdir
seseorang, haha… aku harus belajar dari masa lalu, aku harus menikmati apa yang
ada di depanku sekarang, semua orang berlomba untuk mendapatkan kehidupan yang
layak, kehidupan yang layak akan tercipta
jika kebahagiaan menghampirinya, kebahagiaan akan melahirkan kepuasan,
kepuasan tidak akan tercipta jika kita tidak mensyukuri apa yang kita telah
miliki sekarang. Kehidupan hanya sekali Guys, Jangan pernah tenggelam dalam
keterpurukan. Berusahalah dan nikmati
apa yang kamu miliki sekarang.!!
Jangan pernah kamu menyerah dalam kehidupanmu
Jangan pernah takut mencoba
Kesalahan itu wajar
Kerena
Kesalahan di ciptakan sebagai pelajaran.
You know?
Selama kamu masih hidup, masih banyak KEMUNGKINAN
So.. teruslah berusaha!!
=(^_^)= Zet Sparrow =(^_^)=
0 komentar:
Post a Comment
Tinggalkan komentar. :)