Tuesday, April 30, 2013

Karya Pertamaku "Cinta Berlabuh Takdir" :)



Cinta Berlabuh Takdir
                                                                                    By: Zet Masyhadi
            Banyak yang masih menjadi misteri di dunia ini. Manusia, ya, sangat banyak misteri yang tersimpan pada mahluk yang paling sempurna yang di ciptakan tuhan ini. Seperti halnya hujan yang membasahi bumi, semakin banyak hujan yang jatuh, air yang tergenang akan semakin banyak. Manusia, Semakin banyak manusia yang terlahir, maka akan semakin banyak misteri yang tercipta. Ada satu kata yang menyimpan begitu banyak teka-teki.
Cinta, hoho.. sangat banyak manusia yang terhipnotis dengan kata ini, cinta bagaikan labirin yang mempunyai dua ujung, di mana ujung yang satu terdapat tempat yang di penuhi bunga-bunga yang begitu indah”kebahagiaan”, dan ujung yang satunya terdapat tempat yang di penuhi dengan duri-duri”penderitaan”. Itulah sebenarnya cinta, kebahagiaan dan penderitaan,semua orang tau itu, haha walaupun sudah jelas ada kata penderitaan, tetapi masih saja manusia bersikeras untuk mencobanya. Apalagi kalo bukan karena rasa penasaran.


            Oh Hay.. It’s me, Ziad Masyhadi, jangan ketawa mendengar namaku, aku tau namaku aneh (banyak orang yang mengatakan itu), tapi tenang aja, orangnya gak aneh ko’, J aku sering di panggil Ziad, aku lahir pada juni tanggal 14, ya.. Gemini, katanya si yang bintangnya gemini orangnya menarik, periang dan mmmmm Cerewet, dan itu emang bener. Hehe.. aku mengenal cinta dari umur 14, waktu itu aku masih kelas 3 SMP (kelas IX-B) alias belum akil balig, bulu ketiak aja belum tumbuh, yah mengertilah, sekarang jamannya berbeda, anak SMP kelas satu saja sudah bisa pacaran. Tiara, cewek tomboy super pintar (kelas IX-A) yang membuat ku jatuh cinta tuk pertama kalinya. Sahabatku (Mario yang satu kelas dengan Tiara) si nggak setuju seandainya aku pacaran dengan Tiara, tapi yah…yang namanya cinta, sekalipun ia berada di padang yang di penuhi kecoa (perlu di ketahui, aku paling takut kecoa) aku akan menyeberanginya.
            Waktu itu sore hari saat aku melihat Tiara bermain basket (aku diam-diam selau memerhatikan Tiara bermainnya dari bawah pohon yang berada agak jauh dari lapangan basket), memandangnya sudah membuat hatiku bahagia, tetapi..hmmmm aku juga manusia, ada saat dimana aku inginkan sesuatu yang lebih, perasaan yang menginginkan lebih dari sekedar memandangnya, tapi yang benar saja, aku masih kelas 3 SMP, bagaikan pohon yang menginginkan sinar sang surya terhalang oleh mendung yang menutupi langit. Hatiku yang menginginkan ia terhalang oleh perasaan malu yang menyelimuti hatiku, selama aku sekolah jangankan bicara denganya, berdekatan saja tidak pernah. Aku terus dan terus menunggu setiap waktu, berharap bisa mendapatkan Tiara, aku berfikir jika aku malu terus aku tidak akan mendapatkan jawaban, ahirnya aku memberanikan diri mendekati Tiara.
            Rabu, 7 Februari 2007, pagi itu aku berangkat sekolah lebih awal, sekolah masih sepi, aku duduk di bawah pohon tempat aku sering melihat ia bermain basket, terlihat seseorang duduk di tepi kolam sekolah, aku penasaran lalu mendekatinya, setelah cukup dekat dan ternyata dia adalah Tiara sedang merenungkan sesuatu, aku tarik nafas dalam-dalam dan tetap saja aku malu mendekatinya, aku memutuskan untuk kembali ke pohon, dan tiba-tiba saat ku membalikkan badan “Tumben datang lebih awal???” terucap sapaan pertama darinya untuk ku sambil memberi senyuman terindah yang pernah aku lihat(efek jatuh cinta), kakiku gemetar memberanikan diri tuk duduk di sampingnya, “aku hanya ingin datang pagi(sambil tersenyum)” hanya itu kata yang mampu aku ucapkan untuk menjawab pertanyaan darinya. Hampir 15 menit berlalu tanpa ada satu katapun terucap dari kita berdua. Aku hanya bisa diam terpaku melihat kolam, ikan berenang dengan semangatnya dan bunga teratai mekar begitu indah seakan menggambarkan hatiku yang begitu bahagia bisa sedekat itu dengannya. Di tengah keheningan terlontar kalimat dari bibirnya “Mengapa teratai memilih hidup sendiri di tengah genangan air?? Bukankah di darat ia mempunyai banyak teman-teman yang sama indahnya dengannya, ia berbunga seakan-akan bahagia hidup di tengah2 kesendirian, apakah iya seseorang bisa bahagia jika keadaannya seperti teratai itu??” Aku tersenyum, “kenapa tersenyum” tanyanya bingung sambil melihatku, “Terlihat sendiri, padahal tidak, ikan-ikan terlihat sangat bahagia bermain di dekatnya, memberi makan ikan dengan lumut-lumut yang menempel di batangnya, ia merasa berguna bagi ikan-ikan di dekatnya, tentunya ia tidak mengharapkan ikan-ikan membalas jasanya, tapi cukup dengan melihat ikan bahagia, ia akan bahagia dan berusaha untuk tetap hidup, begitu pula dengan manusia, tidak ada yang bisa mengetahui  apa yang membuat  seseorang bahagia, terkadang manusia bahagia dengan melihat seseorang senang atau berguna karena keberadaannya, walapun ia terlihat sendiri, pasti ada hal yang membuat ia bahagia dan tetap hidup. Di saat kamu kehilangan semangat untuk hidup, bayangkan orang yang kamu sayangi dan berusalah tetap hidup untuk membahagiakan dia J” ia terdiam sejenak dan tersenyum, entah mengapa tiba-tiba aku lancar berbicara di depannya. “Tiara” sambil mengulurkan tanganya dengan tetap tersenyum mengajakku kenalan, “Ziad” sambil tersenyum bahagia dengan sedikit gugup berjabat tangan dengannya. Ia terlihat sedikit menahan tawanya setelah mendengar namaku,
Aku: ya..aku tau namaku aneh (sambil malu-malu melepas tangan yang             sebenarnya masih ingin ku rasakan kehalusan tangannya)
Tiara: J besok bisa bangun pagi kan?? sampai bertemu besok pagi,         (sambil pergi tersenyum             melambaikan tangannya).
Aku: eee.ee yaaa pasti (gugup)
            Hari itu aku sangat senang, bagaikan menemukan danau yang di penuhi buah-buahan yang tumbuh di tepinya di tengah-tengah padang pasir yang luas. Aku menjalankan aktifitas sekolah dengan penuh senyuman. Aku kira Tiara cewek super tomboy yang cuek, dan ternyata aku salah besar, dia jauh lebih anggun di banding cewek yang lain. Malam pun tiba, aku sangat-sangat tidak sabar menunggu esok pagi, seakan-akan ingin menendang bulan dan menarik matahari tuk terbit. Keesokan paginya, tepat pukul 06.30 aku berangkat ke sekolah, dan seperti yang aku harapkan, ia sedang duduk di pinggir kolam. Pagi itu aku sedikit PD duduk di dekatnya karena aku sudah bertemu ia sebelumnya, “sudah lama di sini??” tanyaku, dia terdiam, memandangku kemudian tersenyum dengan senyuman yang tetap semanis madu, tak bisa mengelak, bibirku pun ikut tersenyum karena bahagia melihat ia tersenyum untukku, pagi itupun berlalu dengan kebahagiaan. Dari saat itu aku dan dia mulai berteman, di saat ia punya masalah, aku selalu ada di sampingnya, setiap hari minggu kami selalu pergi ke tempat paforite kami, yaitu pantai Kute (pantai berpasir putih) yang kebetulan tidak terlalu jauh dari SMP, bisa di tempuh dengan berjalan kaki, kami selalu duduk ngobrol sambil menikmati sunset di batu besar yang terdapat di pantai tersebut, saat itu aku merasa tujuan hidupku hanya untuk dia.
            Waktu terasa berjalan begitu cepat, Ujian Nasional pun berlalu dengan hasil SMP ku lulus 100%, sebelum Ujian Nasional, aku dan dia berjanji akan masuk ke SMA yang sama, saat itu aku berharap bisa pacaran setelah masuk SMA. Aku berencana menyatakan cinta saat perpisahan kita yang rencananya akan di lakukan di pantai Kute, aku tak sabar menunggu momen itu, aku mempersiapkan semuanya sesempurna mungkin dengan di bantu teman-teman kecuali Mario sahabatku yang memang dari awal tidak setuju melihat aku dengannya, hari perpisahanpun datang, kami berkumupul di pantai, entah mengapa hatiku tidak tenang hari itu, tetapi aku berusaha membuang perasaan itu, teman-teman pun sudah berkumpul, mentalku sudah siap, beberapa saat aku mencari-cari dia, hatiku semakin tidak tenang karena sosok itu belum terlihat juga, aku terus berharap dan berharap ia akan datang, dan ternyata firasatku benar, harapanku semuanya musnah setelah medengar kabar dari kepala sekolah beberapa siswa pergi ke luar negeri, dan salah satunya adalah Tiara, ia melanjutkan study ke Singapore. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku tak bisa menahan air mata, seakan hidupku tak punya tujuan lagi, teman-temanku hanya bisa terdiam melihatku begitu sedih, aku berjalan sendiri meninggalakan acara perpisahan itu, aku berjalan ke kolam di SMP tempat pertama kali aku bertemu dia. Menangis sambil melihat teratai yang tersisa tinggal batangnya, layu kehilangan mahkotanya, seakan-akan ikut merasakan kehilangan orang yang sangat berarti. Air mataku tak henti mengalir, tiba-tiba terdengar suara kaki berjalan menuju ke arahku, dan ternyata itu Mario, kemudian duduk di sampingku.
Mario: apa kamu merindukan dia??
Ziad: (terdiam)
Mario: hmmmmmm ini sebabnya aku gak setuju melihat kamu sama dia.             Ini bukan ahir dari hidupmu, aku percaya pasti kalian akan            bertemu lagi suatu saat nanti. Berjuanglah       dulu demi             kehidupanmu kelak…
Aku: (tetap terdiam)
Mario: Ziad… dia juga merindukan kamu (sambil memberiku selembar     surat).
            Aku terdiam, berlahan menghafus air mataku dan mengambil surat itu.
            ”Ziad.. sebelumnya aku minta maaf jika pergi tanpa memberitahumu, aku cuman tidak mau melihatmu bersedih di depanku, karena aku akan semakin terpukul jika melihat keadaan itu. Aku minta kamu jangan bersedih setelah mengetahui aku pergi, aku pergi tidak selamanya Ziad, suatu saat aku akan kembali, aku akan kembali mengisi hari-harimu. J kamu masih ingat kalimat yang pertama kamu ucapkan untukku?? “manusia bahagia dengan melihat seseorang senang atau berguna karena keberadaannya, walapun ia terlihat sendiri, pasti ada hal yang membuat ia bahagia dan tetap hidup. Di saat kamu kehilangan semangat untuk hidup, bayangkan orang yang kamu sayangi dan berusalah tetap hidup untuk membahagiakan dia” aku merasa bahagia karena bisa mengisi hari-harimu dan malihat senyum yang terpancar dari bibirmu, kamu harus tau, aku sekarang hidup karena kamu.
            Percayalah Ziad, waktu pasti akan menjawab hati kita berdua, aku percaya itu dan kamu juga harus percaya juga. Sekarang berjuanglah untuk masa depan kita, berhentilah bersedih. Karena aku sayang kamu. Oya, aku tau kamu sering memerhatikan aku dari pohon di dekat lapangan basket , di dekat pohon itu aku menaruh boneka kaca, aku ingin kamu menjaga dan mengembalikan barang itu ke aku kelak. Simpan baik-baik ya.. J
            Setelah membaca isi surat itu, aku langsung berlari mencari boneka kaca yang ia taruh di dekat pohon, dan ternyata aku telat, boneka itu sudah tidak ada di tempatnya, aku bingung harus melakukan apa, aku terus dan terus mencari boneka itu sampai fajar tiba. Dan ahirnya aku putus asa, aku pulang dengan hati yang sedih karena tidak bisa memenuhi permintaannya untuk menjaga boneka itu. Di tengah perjalanan aku baru sadar, aku sangat lapar karena aku belum makan dari kemarin malam karena sibuk mempersiapkan semua keperluan untuk mnembak Tiara, badanku lemas, kaki dan tanganku gemetar, ketika aku sampai di rumah, ibu membukakanku pintu, aku langsung terjatuh tak sadarkan diri di pelukan ibu, tentu saja ibu dan ayahku cemas, 1 hari aku tak sadarkan diri, aku benar-benar down.
            Keesokan harinya ahirnya aku terbangun dengan masih mengingat hal yang kemarin aku alami. Aku berusaha berdiri tapi tak lama ibu langsung datang dan menyuruhku tidur lagi, lalu ia mengambilkanku segelas teh dan sepiring nasi. Sudah jelas nafsu makanku berkurang, aku masih tidak menerima kenyataan yang terjadi, tiba-tiba terlintas di fikiranku orang yang sering membersihkan sekolah “petugas kebersihan”, pak Rizal panggilannya, dia sudah tua, umurnya hampir 50 thn, untungnya dia bapak yang baik hati, aku sering memanggilnya kakek(karena kakekku sudah meninggal), tanpa berfikir panjang aku langsung mencari pak Rizal ke rumah sekolah tempat ia tinggal,  ternyata pak Rizal tidak ada di rumah itu, aku bertanya pada warga di sekitar sekolah, ternyata pak Rizal pensiun bekerja di sekolah itu dan pindah tempat tinggal ke kelurahan sebelah. Aku langsung berlari mencari tempat tinggal pak Rizal yang baru, ahirnya aku menemukan pak Rizal yang berdiri di depan rumah yang keliahatan tak terurus, aku berjalan mendekatinya, “permisi kek, apa kakek pernah melihat benda yang terbuat dari kaca??” tanyaku kepadanya, “oh.. apakah benda yang ini yang kamu maksud?” (sambil memeriksa salah satu kardus yang berisi barang pindahan yang belum di rapikan di rumah barunya itu), dan tenyata benar dugaanku, perasaanku sangat lega ketika melihat benda itu berada di tangan pak Rizal, “terima kasih kek, terima kasih banyak” (sambil ingin mengambil benda tersebut), tiba-tiba pak Rizal berkata “sebentar dulu, sebelum kamu mengambil benda ini, apakah kamu mau menolong kakek merapikan barang-barang bawaan kakek, membersihkan rumah kakek beserta halamannya?” dari awal aku melihat, memang berniat menolong pak Rizal merapikan barang-barang bawaannya, tapi gak sampai mambersihan halaman, yah,.. kasihan juga karena dia sudah tua, “J baik kek, sy pasti bantu” jawabku sambil langsung mengambil barang-barang pak Rizal. Hari terasa sangat cepat berlalu, aku shalat di mushalla dan makan bersama pak Rizal di warung dekat rumah pak Rizal, karena hari sudah hampir malam, aku memutuskan untuk pulang dan melanjutkannya esok hari, setelah aku permisi aku langsung bergegas pulang karena dari pagi aku tidak sempat memberi kabar ke ibu. Malamnya aku tertidur pulas karena sudah bekerja seharian penuh.
            Waktu shubuh pun datang, aku membangunkan ibu dan ayah, setelah itu mengambil air wudhu dan shalat subuh, di keheningan aku berfikir “apakah semua yang aku lakukan ini benar? Apakah semua ini tidak akan sia-sia?” hmmmm entahlah, selama aku masih mampu melakukannya, mengapa tidak? Kelak semuanya pasti kan terjawab, aku yakin allah pasti memberikan yang terbaik untukku, tak lama waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, aku sarapan dan langsung izin kepada ibu dan ayah untuk ke rumah pak Rizal, di perjalan aku melihat pengemis yang kelaparan, sayangnya aku gak membawa apa-apa, saat itu terlintas di fikiranku “seandainya aku terlahir pada kondisi yang seperti itu(sambil memngingat saat aku tidak ingin makan)”seharusnya aku mensyukuri apa yang sudah di berikan allah kepadaku. Ahirnya aku sampai di kediaman pak Rizal, anehnya pagi itu aku tidak menemukan pak Rizal di rumahnya, aku berfikir sejenak dan memutuskan untuk membersihkan halaman rumah pak Rizal yang tak pernah terurus sekian lama, tak lama kemudian aku melihat pak Rizal datang membawakanku nasi bungkus dan segelas teh dari warung sebelah, “mari nak, kita sarapan dulu” berkata pak Rizal kepadaku sambil tersenyum. “saya sudah sarapan kek, bagaimana kalo nasi itu untuk makan siang nanti?” jawabku sambil mengambil teh dan duduk menemaninya sarapan, pak Rizal tersenyum dan melanjutkan sarapannya, setelah pak Rizal selesai aku melanjutkan membersihkan halaman rumahnya. Ahirnya selesai juga membantu pak Rizal, prasaan bahagia karena telah menemukan boneka kaca dan telah membantu pak Rizal melakukan pekerjaannya membuat hatiku puas pada hari ini. Karena hari sudah senja, akupun memutuskan untuk meminta izin pulang kepada pak Rizal, waktuku beranjak pergi, terlontar kalimat dari pak Rizal “sepertinya benda itu pemberian seseorang, apa seseorang itu sangat berarti untukmu?” kakiku berhenti melangkah dan terdiam sejenak, aku berbalik dan tersenyum kepada pak Rizal “sampai jumpa lagi kek” sambil melambaikan tangan.
            Waktu terus berjalan, detik-detik kehidupan terus berdetak, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tak terasa aku sudah memasuki masa SMA, teman-teman baru mengisi hari-hari baruku, sahabatku Mario menempuh SMA di sekolah lain, suasana yang sangat berbeda dari suasana SMP dulu, 2 tahun berlalu, aku memasuki kelas tiga SMA, aku mengambil jurusan IPS, boneka gelas masih melekat di tas sekolah ku, kita semua tahu, wanita di dunia ini tidak satu, perasaan ingin memiliki pacar dan perasaan tidak percaya kepada Tiara pasti ada, walaupun cuman sedikit, sering terlintas dalam fikiranku “apakah iya, Tiara tidak mencari pacar disana?”, semenjak aku masuk SMA sampai sekarang banyak wanita yang ingin dekat denganku, tetapi semua aku anggap biasa, sampai suatu hari aku nememukan seorang wanita, Sahila namanya, ia anak kelas 3-IPA 2, ia sangat mirip dengan Tiara, cuman dia tidak senang bermain Basket, dia sangat perhatian sama aku, di saat aku susah dan membutuhkan seseorang, dia selalu ada di dekatku, aku sebagai cowok pasti membalas kebaikan dia, mmmmm sebenarnya aku juga punya perasaan sama Sahila, tapi….entahlah, aku menghiraukan itu, mungkin saja itu hanya perasaan sesaat, sampai di suatu sore, hal yang tidak terduga terjadi, di pantai tempat ku sering duduk berdua menikmati sunset bersama Tiara, Sahila mengajakku pacaran, tuk pertama kalinya cewek ngajak aku pacaran, hatiku dagdigdug!, badanku gemetar, aku tak tahu harus melakukan apa, aku hanya bisa terdiam melihat matahari, di saat Sahila terus memandangku dengan penuh harapan, aku sangat-sangat bingung, antara menjalin hubungan dengannya, atau menunggu waktu tuk bertemu Tiara, yang aku sendiri tidak tahu apakah aku akan benar-benar bertemu Tiara yang seutuhnya seperti Tiara yang dulu. Di saat itu terlintas fikiran yang menurut aku itu hal yang sedikit egois, aku ingin menjalin hubungan dengan Sahila sementara aku menunggu Tiara, tapi jika sudah bertemu Tiara, aku harus bagaiman lagi? Banyak tanda tanya di otakku, sku terus berfikir, otakku sudah hampir mencapai klimax, dan ahirnya aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Sahila, aku juga berfikir akan mengecewakan Sahila jika aku menolak permintaan dia, terlihat senyuman kebahagiaan dari bibirnya ketika aku menerima permintaannya, senyum yang selalu mengingatkan aku dengan Tiara. J Bahagia bisa melihat dia tersenyum untukku, hari berganti hari, kami sering menikmati Sunset berdua dengannya seperti yang sering aku lalui bersama Tiara, cinta mulai tumbuh di hatiku karena perhatian dan kasih sayang yang ia berikan kepadaku,1 tahun terlewatkan, tiba kabar dari seorang teman bahwa sekitar satu minggu lagi ia akan pulang ,Tiara akan melanjutkan study di sini, aku senang mendengarnya,sekaligus merasa bersalah kepadanya dan Sahila.  Aku mulai bingung harus berbuat apa,hari kedatangan Tiara semakin dekat, dan aku belum memutuskan untuk berbuat apa.
            Enam hari berlalu setelah kedatangan kabar itu, aku ahirnya aku memutuskan untuk mengahiri hubunganku dengan Sahila. keesokan harinya aku mengajak Sahila pergi melihat sunset, kitapun bertemu di tempat biasa, setelah duduk berdua, Sari menikmati suasana dengan penuh senyuman, terpancar jelas dari wajahnya kebahagiaan yang seakan tiada habis dari semenjak kita pacaran. Aku semakin tidak tega untuk melakukan hal yang sebelumnya sudah ku rencanakan, “kenapa kamu kelihatan bingung sayang?” terdengar merdu keluar dari bibirnya, “mmmmmm, aku hanya sedang memikirkan sesuatu” jawabku dengan agak putus-putus, “apa itu? Bisakah kamu menceritakannya? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan sesuatu” ia berkata sambil tersenyum manis,
Aku: “hmmmmmm Sahila… maaf aku telah menyembunyikan ini darimu            sejak awal kita pacaran” (raut wajahnya sedikit berubah,          senyumannya yang manis sudah tak tersisa lagi) tapi aku tetap        melanjutkan pembicaraanku “aku sayang kamu, tapi aku punya     wanita yang aku tunggu jauh dari sebelum kita pacaran,             sebenarnya aku ingin tetap bersamamu, tetapi aku sadar cinta   pertama dan terahirku adalah dia, sekarang ia akan segera datang,            dan aku harus menyambut dia dengan kasih sayang, maaf…”
Sahila: (diam membisu, air matanya tak henti mengalir, raut wajah            yang tidak menerima keadaan tergambar jelas) jadi kamu hanya            ngebuat aku jadi pelampiasan? Kamu sengaja dari awal             manjadikanku pacar sementaramu? Kamu telah menanamkan cinta        dan kasih sayang yang teramat dalam di hatiku, dan sekarang  kamu ingin ini semua lenyap begitu saja?? (berbicara sambil             menangis).
Aku: bukan begi..
Sahila: sudah cukup Ziad (langsung memotong) sudah cukup aku            mengetahui semua kepalsuan yang kamu berikan ini,           hmmmmm(mengusap air matanya dan berusaha tersenyum)             aku akan berusaha ngertiin kamu, terima kasih atas semuanya,     senang aku merasakan kebahagiaan yang kamu berikan di sisa-sisa    hidupku ini, aku selalu berdo’a yang tebaik untukmu, semoga          kamu bahagia bersamanya J (terlihat senyum kekecewaan dari    wajahnya) tidak lama setelah itu dia pergi.
Aku: Sahila.. maafkan aku..(sambil memegang tangannya)
Sahila: (tersenyum) J lakukan jika itu yang yang membuatmu        bahagia(sambil berlahan melepas genggaman tangannku), aku akan         bahagia jika kamu bahagia,
            Ia pun pergi, rasa sangat bersalah menyelimuti hatiku, aku hanya bisa diam membisu melihat sang sursa semakin menjauh, seperti sari yang semakin menjauh dari kehidupanku. Aku memutuskan untuk pulang, sesampaiku di rumah, aku langsung tertidur di kamar.
            Keesokan harinya, matahari berlahan muncul dari sebelah timur, aku berusaha melupakan kejadian kemarin dan berusaha menimbunnya dengan perasaan bahagia yang terbayang yang akan ku jalani hari ini, 3 tahun sudah semenjak Tiara pergi, dan hari ini, pukul 07.30 aku akan bertemu dengannya, sekarang sudah pukul 07.25, tak sabar hatiku ingin bertemu dengannya, syiuuuuttttt terdengar suara pesawat mendarat, aku berada di deretan terdepan bersama teman-teman yang ingin bertemu juga dengannya, sesuatu yang aneh terjadi pada pagi itu, mengapa seorang Mario, orang yang cuek dengan Tiara ikut berada di sana menunggu Tiara, dan lebih anehnya lagi, dia gak negur aku di pagi itu, tapi aku menghiraukan hal itu dan kembali mengalihkan pandanganku ke Tiara yang terlihat sedang menuruni tangga pesawat, ia melihatku, tetapi mengapa pandangannya terhadapku lain, itu bukan seperti pandangan yang dulu lagi, itu adalah pandangan yang membawa beban, hatiku mulai tak tenang, apkah ada sesuatu yang akan terjadi kepadaku. Tak lama Tiara mendatangi kami, sambutan hangat di berikan teman-teman kepanya, tak lama ia melihatku, ia tersenyum, tapi yang ku lihat hanyalah senyuman palsu, 1000 tandanya ada dalam fikiranku, ada apa? Apa yang terjadi? Apakah semuanya akan baik-baik saja? Aku memutuskan untuk pulang tanpa menegur dia dulu.
            Aku duduk sendiri di pantai sambil menggemgam boneka kaca pemberian dia, hatiku bingung, sangat kebingungan, fikiranku terperangkap di labirin yang berdinding tanda tanya, aku tertidur di tempat itu, aku tertidur sampai sore hari, perutku bergemuruh ingin makan, tetapi rasa laparku di tepis oleh prisai kepiluan hatiku, aku melihat sang surya sudah tenggelam setengahnya, tiba-tiba Tiara datang, “aku sudah duga kamu di sini” terucap dari bibirnya, aku diam tetapia berusaha untuk tersenyum,
Tiara: Ziad.. aku ing..
Aku: aku memotong pembicaraannya dengan menyodorkan boneka kaca           yang pernah ia kasi “J aku memenuhi permintaanmu”
Tiara: (terlihat terharu) ziad.. aku gak bisa..
Aku: mengapa?
Tiara: hmmmmmm aku di jodohi dengan seseorang oleh ayahku..
Aku: sapa itu?
            “Aku”, (tiba-tiba muncul di belakang kami), aku benar-benar terkejut melihat ternyata orang yang di jodohin dengan Tiara adalah MARIO “SAHABATKU SENDIRI!!!”, perasaan tidak percaya, kekecewaan, kesedihan, dan semua hal yang negatif bercampur di hati dan fikiranku, air mataku tak sanggup ku bendung lagi “MENGAPA!!?” (sambil melihat keduanya), mereka hanya bisa terdiam, “MARIO!!?”  sambil melihat dia dengan tatapan kekecewaan, “aku sudah bilang dari awal, aku gak setuju melihat kamu dengan Tiara” jawabnya. Aku langsung berlari meninggalkan mereka berdua, aku tidak berani pulang karena mataku yang sembab. Aku berlari ke rumah kakek (pak Rizal), “kamu kenapa?” tanya kakek dengan tampang kebingungan, aku hanya terdiam mendengar pertanyaan kakek, karena aku tidak mau berbicara apa-apa, kakek menyuruhku untuk istirahat di dalam.
            Hari berikutnya terlahir, pagi-pagi aku duduk di halaman rumah kakek, tak lama kakek membawakan aku secangkir teh dan duduk di sampingku,
Pak Rizal: apa kamu sangat merindukan dia? Apa kamu sangat     menyayangi dia? Apa dia sangat berarti untukmu? J (tanya            kekek kepadaku sambil tersenyum) aku memandang kakek             dengan wajah heran
Aku: maksud kakek?
Pak Rizal: ya Tiara, apaka benar apa yang kakek tanyakan?
Aku: (makin terheran) mengapa kakek...???
Pak Rizal: kakek tau semuanya.. J , kakek sengaja tidak membahasnya dari dulu, Tiara itu cucunya kakek, ayahnya adalah anaknya kakek,             dia tidak menaruh boneka kaca itu di pohon, melainkan langsung       memberikannya kepada kakek, dia juga sangat menyayangimu,     kakek melihat kamu anak yang baik, rajin dan tekun, kakek tahu      dia di jodohkan dari sejak kecil dengan Mario, anaknya teman dari     ayahnya Tiara, kakek sebenarnya kurang setuju dengan Mario, dy             anaknya manja, Tiara juga tidak suka           dengan Mario, sekarang    kakek tanya, apa kamu masih ingin bersamanya? J
Aku: (terlahir sebuah harapan dari hatiku) tentu aku mau kek, aku sangat menginginkan ia..
Kakek: J baiklah, serahkan semuanya kepada kakek, beri kakek waktu 3             hari (sambil bergaya seperti joker untuk menghibur hatiku yang        lagi pilu). Mudah-mudahan kali ini berhasil, aku menaruh harapan   penuh kepada pak Rizal, aku bergegas pulang ke rumah karena    takut di marahin ibu karena tidak memberikan kabar dari kemarin.
            Satu hari berlalu, hari kedua di pagi hari tiba-tiba datang sesosok sahabat, dia langsung ke kamarku dan duduk di sebelahku tidur,
Mario: kamu gak usah marah Ziad, bukan aku yang menginginkan ini      semua, mana mungkn aku tega ngelakuin ini sama sahabatku, aku            minta maaf, benar-benar minta maaf, apa persahabatan kita      putus gara-gara ini? Tentu aku tidak mau itu, sulit mendapatkan     sahabat sepertimu.
Aku: hmmmmm yaaa nggak apa-apa ko’, aku juga ngerti, cuman yang     kemarin aku sedikit syok, tapi aku sudah bisa mengtrolnya ko’ J
Mario: Ziad, seandainya perjodohan ini di batalkan, aku akan langsung    bilang ya, karena aku sudah mempunyai pujaan hati yang lain, aku jatuh cinta sama wanita lain. Aku terus berdoa supaya perjodohan   ini di batalkan (sambil melihat ke luar jendela)
Aku: apa kamu mau merelakan Tiara untukku?
Mario: tidak ada yang lebih berarti dari persahabatan. J
            Aku lega mendengarnya, memang, sahabat sejati pasti akan mengerti semuanya, sekarang fikiranku tertuju ke pak Rizal, apakah semuanya akan berjalan seperti yang aku inginkan? Hari itu Mario memutuskan untuk menginap di rumahku, malampun berlalu, sang surya terbit dari sebelah timur dengan senang hati setia memancarkan sinar kehidupannya. Paginya setelah kami sarapan, Mariopun permisi pulang, sedangkan aku memutuskan untuk ke rumah pak Rizal, sesampaiku di rumahnya, terlihat sosok pujaan hatiku yang sedang menyiram tanaman di rumahnya pak Rizal, “oh…kakek, ada Ziad datang..” Tiara teriak memanggil kakeknya dengan wajah yang gemulai, wajah yang ingin mengabarkan berita gembira kepadaku, raut wajahnya tak seperti waktu di bandara lagi, walaupun aku belum mendengar hasilnya dari kakek, tetapi hatiku sedikit tenang karena melihat Tiara begitu. Tak lama pak Rizal pun keluar, ia tersenyum melihatku “apa kalian tak ingin menghabiskan waktu berdua? Kakek tak ingin mengganggu kebahagiaan kalian” berkata pak Rizal sambil tersenyum, aku terdiam sejenak “kakek..?” sambilku melihat pak Rizal, “yaaa, Tiara juga tahu, dia akan menceritakannya semuanya, selamat ya! J” jawabnya. Hatiku yang begitu pilu sekarang terbalik 180o terbang melayang menggapai bintang bersama Tiara bersayap (lebuy), aku dan tiara memutuskan untuk pergi ke tempat biasa untuk mengobrol. karena lama tak bertemu, kami sekalian membawa bekal makan siang ke tempat itu, haripun terasa cepat berlalu, obrolan hangat terus berjalan sampai sang surya berdiri menampakkan keindahannya di sebelah barat, “Tiara.. bagaimana dengan Mario?” tanyaku dengan nada halus, “J kami hanya berteman, tak ada perasaan lebih di antara kita, lagian hatiku sudah berlabuh di dermaga yang di penuhi bunga J” (sambil memegang dadaku), hatiku tak tahu lagi cara mengekspresikan kebahagiaan yang begitu besar, ku ingin hentikan waktu dan terus bersamanya. Matahari sudah hampir tenggelam seutuhnya, aku memutuskan untuk mengantar Tiara pulang,  aku berdiri lebih dulu dan berlari sampai ke seberang jalan raya yang ada di dekat pantai “Tiara! Coba ambil ini! (boneka kaca yang aku bawa)”, “oh.. ya itu milikku, cepat kembalikan! J” (sambil mengejarku), tittt…. Duar!!! Suara mobil menabrak Tiara!, aku terdiam mebisu, tubuhku tak bisa bergerak, aliran darah di kepala dan sekujur tubuhnya tak henti-henti keluar, Tiara!!!!! Dalam sekejap orang langsung berkumpul di tempat kejadian……………………………… (aku duduk di bangku rumah sakit bersama Mario, kakek, ayah dan ibu Tiara), satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam, lima jam, enam jam berlalu, dokter keluar menunjukkan raut muka pembawa berita buruk, hatiku semakin tertampar ketika mendengar Tiara meninggal karena pendarahan, kebahagiaan seketika berubah menjadi kesedihan yang begitu mendalam, air mataku tuk kesekian kalinya mengalir tak terbendung, jantungku seperti tersambar seratus petir, aku tak sanggup melihat mayat Tiara yang terbujur di sana. Mengapa semua ini terjadi di kehidupanku? MENGAPA?????  Ini semua adalah salahku!! Hujan..seakan langit ikut bersedih atas kejadian ini, aku berjalan pulang, tak perduli dengan apapun, sesampaiku di rumah aku langsung memeluk ibu sambil menangis “ada apa Ziad” tanya ibuku heran, “Tiara bu…Tiara meninggal, dan itu semua kesalahanku..” air mataku tak henti mengalir “innalillahiwainnailaihirojiun.. sudah Ziad…ini bukan salahmu” sambil menggiring ku ke kamar, sesampaiku di tempat tidur, aku langsung tertidur, mungkin tak sadarkan diri, entahlah, aku sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi. Esok harinya aku pergi ke pemakaman Tiara, suasana haru tak terbendung, langit tak henti-henti menangis, tak lama semuanya meninggalkan pemakaman terkecuali aku, aku terus duduk terdiam menatap nisan, “sudah…ini bukan salahmu…” tiba-tiba pak Rizal di belakangku, aku tetap membisu, aku tak sanggup berkata apa-apa lagi, “cinta memang indah, tetapi takdirlah yang menentukan semuanya, sekarang mari mampir ke rumah kakek J” sambil memegang pundakku, sesampaiku di rumah pak Rizal, ia memberiku handuk dan segelas teh hangat lalu duduk di sampingku “Perjalana hidupmu masih panjang, hidup adalah sebuah taruhan, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah mimpi yang akan menjadi kenyataan juga, kamu harus bangkit, jangan menyesal, semua yang terjadi adalah pelajaran, masih banyak hal indah yang akan kau lalui J” berkata kakek dengan nada lembut, “terima kasih kek” aku sedikit tersenyum, malam itu aku tidur di rumah pak Rizal.
            Malam berganti pagi, aku permisi untuk pulang kepada kakek, “mampirlah lagi jika kamu ingin” berkata kakek sambil melambaikan tangan. Hari itu aku kuliah dengan masih terbayang wajah Tiara, masih merindukan sosok yang sangat ku cintai, sosok yang selalu membuatku tersenyum, tapi sapa yang bisa melawan takdir? Inilah kehidupan, aku harus bangkit dari keterpurukan dan kembali mengayuh samudra kehidupanku.
            Empat tahun barlalu tanpa ada wanita di sampingku, tiga setengah tahun aku kuliah dan kini aku menjadi pengusaha Mutiara, aku punya perusahaan yang aku manage sendiri, tetapi itu semua tak terlalu berarti tanpa adanya wanita pendamping di kehidupanku, sekarang aku ingin mencari sosok wanita itu, fikiranku tertuju pada wanita yang pernah menjadi bagianku dulu, Sahila, ya, sosok wanita yang selalu mengingatkan pada Tiara ketika aku bersamanya, sekarang ia menjadi akuntan di sebuah perusahaan, aku ingin menemuinya, satu minggu aku mencarinya, tapi hasilnya nihil, ternyata ia di kirim ke luar daerah untuk penukaran sementara pekerja, baiklah, aku memutuskan untuk menuggu dia.
            Satu bulan berlalu dan ahirnya ia kembali, aku menemuinya saat ia makan siang di sebuah rumah makan, kebetulan ia sendiri hari itu,
Aku: “boleh aku duduk di sini? J
Sahila: (Sedikit terkejut melihatku muncul lagi), boleh, silahkan J.
Aku: bagaimana kehidupanmu sekarang?
Sahila: seperti yang kamu lihat, tidak terlalu buruk kan?
Aku: J sangat indah.
Sahila: J apa yang kamu ingin bicarakan?
Aku: tidakkah kamu melihat pandanganku? Aku rindu akan sosok dirimu,           aku rindu akan perhatianmu yang dulu pernah kamu berikan.
Sahila: J Ziad… aku bukan wanita yang cocok untukmu, aku hanya        seorang akuntan, tidak lebih.
Aku: tidak ada yang bisa mengetahui  apa yang membuat  seseorang       bahagia, terkadang manusia bahagia dengan melihat seseorang        senang atau berguna karena keberadaannya, aku akan sangat             bahagia berada di sampingmu lagi.
Sahila: J maaf Ziad.. aku sudah punya pendamping hidup, ia tidak           sempurna, tetapi ia bisa menghargai apa yang aku berikan          kepadanya.
            Tak lama kemudian seorang pria datang, “sayang, siapa ini?” menanyakanku kepada sari, ternyata pria itu adalah suaminya, “oh ini, kenalin sayang, dia teman lamaku, kita sudah lama tidak berjumpa” dengan sedikit kecewa dan kebingungan aku berjabat tangan dengan pria itu, seperti seekor semut yang tersambar petir setelah ku mengetahui ternyata Sari telah memutuskan untuk melanjutkan hidupnya dengan pria lain. Tak lama kemudian aku langsung bergegas permisi untuk meninggalkan mereka, aku pulang dengan perasaan pilu, tak henti-hentinya kesedihan mendatangiku, kapan semua ini akan berahir? aku tak tahu lagi ingin berbuat apa, hmmm yahh inilah kehidupan, benar kata kakek “cinta boleh bersemi, tetapi takdir yang memutuskan semuanya” aku tak ingin jatuh lagi dalam jurang kegelapan, aku seketika bangkit dan melanjutkan kisah hidupku.
            Sapa yang mengetahui rahasia kehidupan, Viona, ya.. seorang pegawai bank nan cantik dan perhatian, wanita yang penyayang, mungkinkah dia? Entah lah, sapa yang tahu tentang takdir seseorang, haha… aku harus belajar dari masa lalu, aku harus menikmati apa yang ada di depanku sekarang, semua orang berlomba untuk mendapatkan kehidupan yang layak, kehidupan yang layak akan tercipta  jika kebahagiaan menghampirinya, kebahagiaan akan melahirkan kepuasan, kepuasan tidak akan tercipta jika kita tidak mensyukuri apa yang kita telah miliki sekarang. Kehidupan hanya sekali Guys, Jangan pernah tenggelam dalam keterpurukan. Berusahalah dan  nikmati apa yang kamu miliki sekarang.!!

Jangan pernah kamu menyerah dalam kehidupanmu
Jangan pernah takut mencoba
Kesalahan itu wajar
Kerena
Kesalahan di ciptakan sebagai pelajaran.
You know?
Selama kamu masih hidup, masih banyak KEMUNGKINAN
So.. teruslah berusaha!!

=(^_^)= Zet Sparrow =(^_^)=

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan komentar. :)